Selasa, 07 April 2015


Diposkan Oleh : Listia Damanik
Npm : 131005039


Riset Pasar : Pengalaman pelanggan ( Customer Experience) Dalam Bisnis Jual Pulsa Tanpa Counter

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Pulsa sangat penting untuk semua orang karena digunakan untuk kepentingan sehari-hari dalam berkomunikasi dengan orang lain. Bisnis pulsa bisa dijalankan oleh siapapun baik orangtua, pelajar SMP, pelajar SMA dan Mahasiswa. Bisnis pulsa juga tidak harus membuka counter. Dengan pulsa tanpa counter orang yang membeli dapat dengan mudah mengaksesnya, karena pulsa bisa langsung diisi melalui sms dan tidak perlu repot ke tempat counter. Bisnis pulsa memang berkembang seiring dengan penggunaan Handphone yang semakin meluas. Hampir di semua lapisan masyarakat handphone bukan lagi barang asing, handphone menjadi barang yang sering digunakan baik kalangan bawah maupun kalangan elit. Dengan perkembangan teknologi infomasi ini, membuat pulsa semakin di butuhkan. Dan tentunya membuat penjual pulsa semakin bersemangat untuk menjual pulsa baik sebagai usaha rumahan maupun usaha sampingan. Kepuasan konsumen merupakan acuan keberhasilan suatu perusahaan
dalam memberikan pelayananannya kepada konsumen. Kepuasan konsumen dapat dijadikan sebagai pencapaian harapan dari sebuah perusahaan dalam memberikan pelayanannya kepada konsumen. Kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang berasal dari perbandingan antara kesannya terhadap kinerja (atau hasil) suatu produk dan harapan-harapannya (kotler,1997).

B.     Rumusan Masalah
Bagaimana pengalaman pelanggan (Customer experience) dalam bisnis jual pulsa tanpa counter?
C.    Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengalaman pelanggan (Customer experience) setelah  menjadi konsumen dalam bisnis jual pulsa?
D.    Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh pihak lain untuk memulai bisnis jual pulsa dan mengembangkan pola pelayanan yang lebih baik.








BAB II
KAJIAN PUSTAKA

1.      Pengertian dari customer experience
Thompson & Kolsky (2004, dalam Terblanche, 2004) mendefinisikan customer experience sebagai akumulasi dari semua kejadian yang disadari oleh pelanggan. Sementara itu Watkins (2007) mendefinisikan customer experience sebagai penjelmaan sebuah brand yang mana melingkupi semua interaksi antara organisasi dengan pelanggan. Brooks (2006) menjelaskan tentang lima langkah yang harus dilakukan perusahaan dalam membangun experience pelanggannya, yaitu; (1) mengetahui keinginan pelanggan, (2) proses dan sistem yang baik sehingga mampu memenuhi semua ekspektasi pelanggan, (3) buatlah pelanggan senang dan menikmati proses bertransaksi, (4) buat pelanggan merasa “Wow”, kemudian yang terakhir, (5) buat pelanggan berhasil dengan adanya transaksi tersebut. Pengalaman pelanggan yang berinteraksi dengan orang lain secara terus-menerus dapat membangun bisnis pulsa yang maju. Customer experience secara sederhana adalah suatu proses, strategi dan implementasi dari suatu perusahaan untuk mengelola pelanggan terhadap pengalamannya dengan sebuah produk atau layanan. Pada dasarnya, customer experience berfokus pada konsep manajemen yang berorientasi berorientasi pada kepuasan, Jadi, tidak bertumpu kepada produk akhir dari suatu produk atau pelayanan (Schmitt (2003:18). Oleh karena itu, customer experience adalah soal memahami lifestyle konsumen dan melebarkan pandangan pemasar dari produk ke proses konsumsi.
2.      Variabel Pengukuran customer experience
Pengukuran customer experience didasarkan pada empat komponen, yaitu: functional,economicemotional, identity.
a. Functional,  yaitu menjelaskan kombinasi dari penampilan fisik yang mampu
menampilkan keindahan atau daya tarik tertentu bagi pelanggan bisnis jual pulsa (Norton, 2003, p. 23).
b. Economic, menjelaskan harga yang harus dibayarkan pelanggan untuk mendapatkan layanan, harga tersebut tidak selalu rendah atau tidak selalu tinggi namun penetapan harga yang menarik bisa memberikan pengalaman khusus bagi pelanggan bisnis jual pulsa (Norton, 2003, p. 23).
c. Emotional, dijelaskan dari ketenangan dan kekuatan dari perasaan yang tersentuh dari layanan yang diberikan dari bisnis jual pulsa  (Norton, 2003, p. 23).
d. Identity, menjelaskan mengenai sesuatu yang terkesan indah dan alami dari
sebuah layanan dari bisnis jual pulsa (Norton, 2003, p. 23).





BAB III
METODE PENELITIAN
I.                   Jenis peneletian
Jenis penelitian yang peneliti gunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif, karena peneliti ingin mencoba menjelaskan dan mendeskripsikan tentang pendapat pelanggan mengenai pengalaman yang diperoleh dalam bisnis jual pulsa tanpa counter.
II.                Teknik pengumpulan data
Data penelitian dikumpulkan melalui teknik wawancara mendalam kepada salah satu konsumen (pelanggan) dari bisnis jual pulsa tanpa counter.
III.             Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah pelanggan dari distributor pulsa elektrik yaitu lilla pandia. Jawaban dari narasumber peneliti anggap telah mewakili jawaban dari konsumen lain mengingat dia telah menjadi pelanggan  yaitu 1 tahun.
IV.             Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada tanggal 7 April 2015 di jalan palagan.










 BAB IV
PENYAJIAN DATA


I.                   DESKRPIPSI PENEMUAN
Bisnis jual pulsa tanpa counter memberikan banyak pengalaman unik bagi para pelanggannya (konsumen). Pelayanan bagi konsumen sangat beragam diantaranya sebagai berikut :

a.       Pelayanan yang termasuk sebagai komponen fungsional adalah bisa bebas memilih pembelian isi ulangnya dengan tarif ekonomi di kantong kita sendiri.
b.      Pelayanan yang termasuk sebagai komponen Economic adalah harga yang ditawarkan untuk bisnis pulsa sangat terjangkau dan sesuai dengan harga mahasiswa. Bisa utang karena uang blom ada.
c.       Pelayanan yang termasuk sebagai komponen Emotional adalah para pelanggan bisnis jual pulsa kebanyakan mahasiswa
d.      Pelayanan yang termasuk sebagai komponen Identity adalah  pulsa cepat masuk, jadi tidak perlu menunggu lama.
     

 BAB V
KESIMPULAN

Pengalaman pelanggan (Customer experience) dalam bisnis jual pulsa tanpa counter mempunyai empat kategori yang telah di jelaskan sebelumnya, yaitu kategori functional economic emotional,  identity. Dengan adanya pengalaman pelanggan ini akan memberikan dampak yang positif bagi para pembisnis pulsa. Penjual pulsa dapat selalu meningkatkan pelayanannya dengan mempertimbangkan pendapat dari para pelanggan tentang pengalaman yang mereka dapat setelah menjadi konsumen dalam bisnis pulsa.


DAFTAR PUSTAKA
Donnelly, M. (2009). Building customer loyalty. A customer experience based approach in a tourism context. Irlandia: Waterford institute of technology. June 2009.

Norton DW. (2003). Toward meaningful brand experiences. Design Management Journal Vol. 14, No. 1.

Thompson & Kolsky (2004, dalam Terblanche, 2004)



Analisis Customer Experience pada Konsumen di Rumah Makan Nusantara


Analisis Customer Experience pada Konsumen di Rumah Makan Nusantara
Diposkan oleh : Heni lusiawati (131005079)

INTRODUKSI
Rumah makan Nusantara merupakan rumah makan yang menawarkan suasana kedaerahan dalam ruangannya, suasana daerah yang diangkat oleh pemilik rumah makan tersebut adalah daerah NTT, karena memang pemilik dari rumah makan Nusantara juga asli dari daerah NTT. Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di rumah makan Nusantara ini karena banyak hal unik yang ditawarkan oleh pemilik rumah makan bagi konsumen yang datang.  Baik itu tentang pelayanannya ataupun tentang suasana  yang ditawarkan dalam ruangan rumah makan Nusantara.
Customer experience merupakan pengalaman pada produk yang ditawarkan yang didefinisikan sebagai pembuktian sebuah produk dalam kemampuannya memberikan kesempatan bagi pelanggan untuk mendapatkan pengalaman yang berarti (Norton, 2003, p. 23). Pengukuran customer experience didasarkan pada empat komponen, yaitu: functional (penampilan fisik yang dapat menarik pelanggan), economic (harga yang ditawarkan produsen), emotional (perasaan pelanggan tentang pelayanan), identity (sesuatu yang menunjukkan identitas menarik dari produk) (Norton, 2003, p. 23). Menurut Donnelly (2009, p. 3) bahwa pengalaman positif yang didapatkan pelanggan akan membangun Loyalitas pelanggan. Sehingga hal inilah yang akan menambah nilai keuntungan bagi pihak produsen (pemilik).
Dari penjelasan dan fenomena yang telah dipaparkan maka peneliti ingin mencoba melihat dan menjelaskan tentang pendapat dari pelanggan mengenai pengalaman yang diperoleh (Customer experience) setelah datang dan menjadi konsumen dari rumah makan Nusantara.
  Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapat pelanggan tentang pengalaman pelanggan (Customer experience) setelah datang dan menjadi konsumen dari rumah makan Nusantara.
     Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh pihak pemilik rumah makan Nusantara untuk mengembangkan pola pelayanan yang lebih baik.

KONSEP TEORI
I.                   Pengertian dari Customer experience
Norton (2003) menyatakan: “Customer experiences: defining brand truth, and creating opportunities for consumers to have meaningful experiences (p. 23).” Pengalaman pada merek didefinisikan sebagai pembuktian sebuah merek (truth) dalam kemampuannya memberikan kesempatan bagi pelanggan untuk mendapatkan pengalaman yang berarti. Berdasarkan pada pendapat ini bisa dijelaskan bahwa customer experience merupakan pengalaman-pengalaman yang didapatkan oleh pelanggan dari penggunaan sebuah merek.
Donnelly (2009, p. 3) mengatakan jika pengalaman pelanggan termasuk positif yang didapatkan, maka pelanggan akan membangun Loyalitas. Pengalaman yang diperoleh pelanggan ketika berinteraksi dengan layanan perusahaan menjadi pertimbangan bagi pelanggan untuk tetap memprioritaskan layanan perusahaan dibandingkan dengan layanan perusahaan lainnya. Tendensi untuk mengulang pembelian lebih besar karena pelanggan terdorong untuk bisa mendapatkan pengalaman berharga ketika berhubungan dengan produk maupun layanan perusahaan. Dorongan secara terus menerus dan intensi untuk melakukan pembelian tersebut akhirnya mendorong pelanggan untuk tetap setia pada layanan perusahaan.
II.                 Variabel Pengukuran customer experience
Pengukuran customer experience didasarkan pada empat komponen, yaitu: functional, economic, emotional, identity.
a. Functional,  yaitu menjelaskan kombinasi dari penampilan fisik yang mampu
menampilkan keindahan atau daya tarik tertentu bagi pelanggan dari rumah makan Nusantara (Norton, 2003, p. 23).
b. Economic, menjelaskan harga yang harus dibayarkan pelanggan untuk mendapatkan layanan, harga tersebut tidak selalu rendah atau tidak selalu tinggi namun penetapan harga yang menarik bisa memberikan pengalaman khusus bagi pelanggan rumah makan Nusantara (Norton, 2003, p. 23).
c. Emotional, dijelaskan dari ketenangan dan kekuatan dari perasaan yang tersentuh dari layanan yang diberikan dari Rumah makan Nusantara  (Norton, 2003, p. 23).
d. Identity, menjelaskan mengenai sesuatu yang terkesan indah dan alami dari
sebuah layanan dari Rumah makan Nusantara (Norton, 2003, p. 23).

METODE PENELITIAN
I.                   Jenis peneletian
Jenis penelitian yang peneliti gunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif, karena peneliti ingin mencoba menjelaskan dan mendeskripsikan tentang pendapat pelanggan mengenai pengalaman yang diperoleh ketika datang dan menjadi konsumen di rumah makan Nusantara.
II.                Teknik pengumpulan data
Data penelitian dikumpulkan melalui teknik wawancara mendalam kepada salah satu konsumen (pelanggan) dari rumah makan Nusantara.
III.             Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah pelanggan dari rumah makan Nusantara bernama Acik Farianto yang telah menjadi pelanggan selama 3 tahun, narasumber ini juga berasal dari daerah NTT. Jawaban dari narasumber peneliti anggap telah mewakili jawaban dari konsumen lain mengingat dia telah menjadi pelanggan yang relatif lama yaitu 3 tahun.
IV.             Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada tanggal 5 April 2015 di rumah makan Nusantara jalan Kledokan Sleman.

PENYAJIAN DATA

I.                   DESKRPIPSI PENEMUAN
Rumah makan Nusantara memberikan banyak pengalaman unik bagi para pelanggannya (konsumen). Pelayanan bagi konsumen sangat beragam diantaranya sebagai berikut :
a.       Pelayanan yang termasuk sebagai komponen fungsional adalah di rumah makan Nusantara konsumen dibebaskan untuk meracik sendiri menu makanan yang dia pesan dan produsen hanya menyiapkan bahan mentahnya saja. Hal unik  ini justru yang akan menjadikan daya tarik tersendiri bagi konsumen untuk mencoba menu makanan yang ada di rumah makan Nusantara.
b.      Pelayanan yang termasuk sebagai komponen Economic adalah harga yang ditawarkan untuk menu makanan di rumah makan Nusantara sangat terjangkau dan sesuai dengan harga mahasiswa. Selain itu ada pengalaman yang unik dan menarik yang dirasakan pelanggan yaitu ketika pelanggan (yang sudah sering makan di rumah makan Nusantara) belum mempunyai uang untuk membayar makanannya, mereka boleh hutang dulu dengan menuliskan namanya dibuku BON dan mereka diperbolehkan pemilik rumah makan membayarnya di akhir bulan ketika sudah mempunyai uang.
c.       Pelayanan yang termasuk sebagai komponen Emotional adalah para pelanggan di rumah makan Nusantara memang sebagian besar adalah orang yang asli dari NTT, sehingga dengan kesamaan daerah antara pelanggan dengan pemilik rumah makan bahasa yang digunakan ketika melayani adalah bahasa daerah NTT. Hal unik ini juga akan memberikan kesan perasaan yang mendalam bagi pelanggan karena merasa bangga dan senang ketika berbahasa dengan bahasa asli daerahnya. Selain pengalaman tersebut ada pengalaman unik lainnya yaitu ketika pelanggan telah selesai makan dan suasana rumah makan tidak terlalu ramai, biasanya pemilik rumah makan mengajak pelanggannya untuk ngobrol dan bermain catur bareng. Hal unik ini mungkin salah satu strategi yang dilakukan oleh pemilik rumah makan untuk menjalin hubungan yang lebih intensif dan personal dengan pelanggannya untuk tujuan agar pelanggannya tidak bosan dan kembali datang ke rumah makan Nusantara.
d.      Pelayanan yang termasuk sebagai komponen Identity adalah dalam ruangan rumah makan Nusantara pernak-pernik yang dibuat hiasan di ruangan adalah hasil kerajinan dari daerah NTT itu sendiri. Sehingga dengan adanya penak-pernik ini menjadikan simbol identitas bagi rumah makan Nusantara bahwa rumah makan ini adalah rumah makan daerah yaitu khususnya untuk daerah NTT. Pengalaman unik ini juga  mungkin dapat menarik minat bagi para pelanggan sendiri khususnya bagi mereka yag orang NTT.

KESIMPULAN
Pengalaman pelanggan (Customer experience) di rumah makan Nusantara mempunyai empat kategori yang telah dijelaskan sebelumnya, yaitu kategori functional, economic, emotional, identity. Dengan adanya pengalaman pelanggan ini akan memberikan dampak yang positif bagi pemilik rumah makan. Pemilik rumah makan dapat selalu meningkatkan pelayanannya dengan mempertimbangkan pendapat dari para pelanggan tentang pengalaman yang mereka dapat setelah menjadi konsumen di rumah makan Nusantara itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA
Sally Eva Setiawan, Gabriella Michelle. Analisa Experiental Marketing terhadap Loyalitas Konsumen dengan Variabel Customer Experience sebagai Variabel Perantara di Ciputra Waterpark Surabaya. Jurnal Manajemen Perhotelan, Universitas Kristen Petra, Surabaya, Indonesia.

Donnelly, M. (2009). Building customer loyalty. A customer experience based approach in a tourism context. Irlandia: Waterford institute of technology. June 2009.

Norton DW. (2003). Toward meaningful brand experiences. Design Management Journal Vol. 14, No. 1.

Jumat, 27 Maret 2015

Proposal Kelompok Riset Pasar tentang Pengembangan Wisata Museum di Kota Yogyakarta


Proposal Riset Pasar tentang Pengembangan Wisata Museum di Kota Yogyakarta
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Pada saat ini perkembangan parawisata semakin berkembang hampir di semua negara. Sektor pariwisata merupakan salah satu peluang bisnis yang sangat menjanjikan khususnya di daerah Istimewa Yogyakarta sebagai destinasi wisata urutan ke delapan di Indonesia, sedangkan di urutan pertama hingga ketujuh dikuasai oleh Pulau Bali yang di dalamnya terdapat banyak lokasi-lokasi wisata. Pengembangan pariwisata di dunia ketiga lebih berorientasi ke pariwisata alternatif dan pariwisata ekonomi, kita sudah merasakan bahwa dari tahun ke tahun jumlah wisatawan internasional terutama yang mengunjungi Indonesia terus meningkat sehingga kita di hadapkan pada persoalan untuk menata produk-produk wisata sehingga dapat meningkatkan dari minat wisatawan untuk berkunjung (Spillance,1987). Dengan adanya fenomena tersebut penelitian yang akan kita lakukan yakni  tentang wisata museum yang ada di kota Yogyakarta. Menurut berita dari Gudeg.net, Tribun Jogja dan Merdeka.com tingkat kunjungan museum yang ada di Yogyakarta dari waktu ke waktu menurun sangat drastis.
Keberadaan museum belum mampu menunjukkan nilai-nilai koleksi yang tersimpan kepada publik (Yurnaidi, 2009). Selama ini museum belum menjadi tempat tujuan utama bagi kalangan generasi muda. Masih banyak kalangan generasi muda kita yang enggan untuk berkunjung ke museum karena kesannya yang tidak menarik dan membosankan.
Berdasarkan sumber-sumber berita tersebut kami tertarik untuk meneliti apa yang menyebabkan pengunjung museum mengalami penurunan pengunjung secara drastis, bahkan media online Tribun Jogja memberitakan bahwa Museum Perjuangan Yogya hanya sekitar 400 pengunjung pertahun dan jika dirata-rata hanya satu pengunjung pertahun dan peneliti mempunyai data tentang penyebab penurunan pengunjung di museum. Sehingga dalam penelitian ini kami akan mencoba menghubungkan antara pola promosi pihak museum dengan persepsi masyarakat tentang museum.
RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana pola promosi yang dilakukan pihak museum kepada pengunjung tentang museum?
2.      Bagaimana pendapat (persepsi) pengunjung tentang museum sebagai tempat wisata?
3.      Bagaimana menjadikan museum sebagai salah satu tempat wisata yang menarik dan tidak membosankan bagi semua kalangan masyarakat?

B.     TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
Ø  Tujuan dari penelitian yang akan dilakukan sebagai berikut
1.      Mengetahui bagaimana pihak museum dalam mempromosikan museum
2.      Mengetahui bagaimana pendapat (persepsi) pengunjung tentang museum sebagai tempat wisata
3.      Membuat gagasan tentang menjadikan museum sebagai salah satu tempat wisata yang menarik dan tidak membosankan bagi semua kalangan masyarakat
Ø  Manfaat dari penelitian yang akan dilakukan sebagai berikut
1.      Hasil penelitian kami nanti dapat dijadikan sebagai referensi baik untuk pemerintah (Dinas Wisata), pengelola museum dalam mengembangkan objek wisata museum yang menarik, agar para pengunjung museum lebih meningkat jumlahnya. 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Penelitian sebelumnya yang dijadikan peneliti bahan referensi adalah penelitian tentang Minat Masyarakat Terhadap Museum.
Penelitian ini dilakukan oleh Universitas Lambung Mangkurat, hasil penelitiannya bahwa masyarakat kurang berminat mengunjungi museum diakibatkan karena kurangnya komunikasi dan informasi yang menunjukkan museum sebagai lembaga pembelajaran yang bersifat rekreatif, khususnya bagi pelajar, belum adanya sosialisasi yang merata untuk masyarakat. Selain itu dalam penelitian ini juga dikatakan museum kurang berinovasi dan kreatif untuk menarik minat dari para pengunjung, sehingga setiap pengunjung akan merasa bosan dan jenuh ketika mengunjungi sebuah museum.

B.     Pengertian tentang minat
Minat adalah sumber motivasi yang mendorong seseorang untuk melakukan apa yang ingin dilakukan dengan penuh kesadaran. Minat harus dipandang sebagai suatu kesadaran, karena minat merupakan aspek psikologis seseorang untuk menaruh perhatian terhadap kegiatan tertentu dan mendorong seseorang untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Dengan adanya minat ini yang membuat masyarakat dapat memiliki niat dan keinginan untuk mengunjungi museum tanpa adanya unsur paksaan dari pihak siapapun.

C.     Pengertian dan fungsi dari museum
Museum adalah suatu lembaga tempat penyimpanan, perawatan, pemeliharaan, pengamanan, pengoleksian, pemanfaatan benda-benda bukti material hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian budaya bangsa, yang bersifat terbuka untuk umum serta bersifat melayani kebutuhan masyarakat baik untuk pendidikan, penelitian ilmiah, ataupun sekedar untuk kesenangan.
Ø  Fungsi dari Museum
Museum memiliki beberapa fungsi, diantaranya:
1. Pengumpulan dan pengamanan warisan budaya
2. Dokumentasi dan penelitian ilmiah
3. Sarana pembelajaran dan penyebaran ilmu bagi masyarakat
4. Pengenalan kebudayaan antar daerah dan antar bangsa
5. Objek wisata

D.    Kumpulan museum di kota yogyakarta
Jumlah museum yang ada di kota Yogyakarta banyak dan beragam jenisnya, Menurut data dari BPS museum di kota Yogyakarta jumlahnya 10 museum, diantaranya mulai dari museum Puro Pakualaman, Perjuangan, Sasana Wiratama, Vredeburg, Sono Budoyo, Biologi, Dharma Wiratama, Sulaman, Batik, dan Sasmita Loka.

E.     Teori Struktural Fungsional
Struktural-fungsionalisme lahir sebagai reaksi terhadap teori evolusionari. Jika tujuan dari kajian-kajian evolusionari adalah untuk membangun tingkat-tingkat perkembanganbudaya manusia, maka tujuan dari kajian-kajian struktural-fungsionalisme adalah untuk membangun suatu sistem sosial, atau struktur sosial, melalui pengajian terhadap pola hubungan yang berfungsi antara individuindividu, antara kelompok-kelompok, atau antara institusi-institusi sosial di dalam suatu masyarakat, pada suatu kurun masa tertentu. (Marzali, 2006: 127).
Marzali dalam jurnalnya menuliskan bahwa struktural-fungsional adalah penggabungan dari dua pendekatan, yang bermula dari pendekatan fungsional Durkheim, kemudian digabungkan dengan pendekatan struktural R-B (Radcliffe and Brown). Karena itu untuk memahami pendekatan struktural-fungsional, orang harus melihat dulu sejarah perkembangan pendekatan fungsional (2006: 128). Analisa fungsional berusaha menjawab pertanyaan mengapa suatu item-item sosial tertentu mempunyai konsekuensi tertentu terhadap operasi keseluruhan sistem sosial. Dalam konsep “struktural-fungsionalisme” model yang dapat digunakan adalah model organisme tubuh manusia. Dalam model ini, R-B mengumpamakan sebuah masyarakat sebagai sebuah organisme tubuh manusia, dan kehidupan sosial adalah seperti kehidupan organisme tubuh tersebut. Satu organisme tubuh terdiri dari sekumpulan sel dan cairan yang tersusun dalam suatu jaringan hubungan, sedemikian rupa, sehingga membentuk sebuah keseluruhan kehidupan yang terintegrasi. Susunan hubungan antara unit-unit dalam organisme tersebut, atau sistem hubungan yang mengikat keseluruhan unit, disebut struktur dari organisme tersebut.

BAB III
KERANGKA BERPIKIR

Dari kajian pustaka yang telah kami paparkan diatas tentang teori struktural fungsional dijelaskan bahwa Analisa fungsional berusaha menjawab pertanyaan mengapa suatu item-item sosial tertentu mempunyai konsekuensi tertentu terhadap operasi keseluruhan sistem sosial. Item sosial yang kita maksud dalam penelitian tentang museum ini adalah pihak Pemerintah (Dinas Pariwisata), pengelola museum dan para pengunjung museum. Tiga item sosial ini sangat penting dalam menunjang perkembangan dari sebuah museum, karena Pemerintah dan pengelola museum harus selalu bekerja sama untuk membuat program ataupun strategi dalam hal promosi agar para pengunjung dari museum lebih berminat untuk mengunjungi museum, dan sebaliknya jika pemerintah dan pengelola museum gagal, maka konsekuensinya akan berdampak pada minat pengujung yang sedikit untuk berkunjung ke museum.

BAB IV
METODE PENELITIAN
A.    Jenis Penelitian
Penelitian yang akan kami lakukan awalnya dengan metode observasi dengan tujuan mengetahui pola promosi yang digunakan oleh pihak pengelola museum dan bentuk kerjasamanya dengan pemerintah. Setelah observasi kami juga akan melakukan wawancara kepada para pengelola museum dan meminta data sekunder terbaru tentang jumlah pengunjung museum.
Jenis penelitian selanjutnya yaitu dengan riset kuantitatif melalui survei lapangan yang ditujukan kepada pengunjung, kami akan menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner yang pertanyaannya berhubungan dengan museum.
B.      Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di museum yang ada di Kota Yogyakarta
C.     Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah para pengunjung museum yang ada di Kota Yogyakarta
D.     Populasi dan Sampel
Ridwan (2005) mendefinisikan populasi yaitu obyek atau subyek yang berada pada suatu wilayah dan memenuhi syarat-syarat tertentu berkaitan dengan masalah penelitian. Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan obyek yang diteliti dan dianggap mewakili populasi (Notoatmojo, 2005).
Dari pengertian tersebut dapat ditentukan bahwa populasi dari penelitian adalah semua pengunjung museum di Kota Yogyakarta. Sedangkan untuk sampelnya peneliti menggunakan teknik Random sampling adalah teknik pengumpulan sampel secara acak.  Karena dengan Random sampling peneliti akan mudah untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan.
E.     Analisis Data
Jenis analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis kualitatif untuk memaparkan hasil wawancara yang kami dapat dari pihak pengelola museum, kemudian peneliti juga menggunakan analisis kuantitatif untuk memaparkan hasil pengumpulan data dari kuesioner yang telah disebarkan pada pengunjung museum.
Analisis data kualitatif kami gunakan untuk mengetahui pola promosi yang dilaksanakan oleh pihak museum. Kemudian analisis data kuantitatif dilaksanakan untuk mengetahui persepsi masyarakat mengenai pola promosi museum. Setelah kami mendapatkan data tersebut, kami akan mencoba menghubungkan antara pola promosi pihak museum dengan persepsi masyarakat tentang museum.
DATA
CARI
SUMBER
Jumlah pengunjung
Data sekunder
Pihak pengelola museum
Pendapat tentang pola promosi pendapat
Wawancara
Pihak pengelola museum
Persepsi pengunjung tentang museum
Kuesioner
Pengunjung museum



DAFTAR PUSTAKA
 __________, ANTROPOLOGI INDONESIA http://journal.ui.ac.id/index.php/jai/article/viewFile/3558/2829 Vol. 30, No. 2, 2006 Diakses tanggal 7 desember 2014, 16:54,
Badan Pusat Statistik Yogyakarta. 2013. STATISTIK PARIWISATA KOTA YAOGYAKARTA. Kota Yogyakarta: Badan Pusat Statistik Kota Yogyakarta.
Direktorat Jendral Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1984.  Mengenal Sepuluh Museum Umum Provinsi Di Indonesia, Proyek Pengembangan Permuseuman Jakarta. Jakarta
Kusumo, Pratameng. 1989. Menimba Ilmu Dari Museum. Jakarta : PT.Kincir Buana.
Saatuzzamani, Fitriyah. Makalah Ilmu Sosial dan Budaya Dasar Universitas Lambung Magkurat, tentang Minat Masyarakat Berkunjung ke Museum. https://www.academia.edu/7972129/Makalah_Minat_Masyarakat_Berkunjung_ke_Museum, diakses tanggal 22 Maret 2015, pukul 13.00.
Schouten,FFJ. 1991. Pengantara didaktik museum, Proyek Pembinaan Permuseuman Jakarta Direktorat Jendral Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.