Tampilkan postingan dengan label Brendha Gebby P (131004986). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Brendha Gebby P (131004986). Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Juni 2015

Riset Wawancara Di Pasar Mobil TVRI Yogyakarta


Pada kesempatan kali ini penulis juga melakukan wawancara di sebuah pasar di tempat yang berbeda dan barang yang dijual pun berbeda. Tempat tersebut terletak di TVRI yang beralamat di Jalan Megelang. Pasar ini merupkan wadah bagi para pemilik MOBIL BEKAS untuk memasarkannya di sini. Pasar ini di buka setiap hari Minggu pagi.

APA YANG DIWAWANCARAI?

Penulis mewawancarai penjual mobil bekas dan konsumen yang berniat membeli mobil bekas. Dari  empat penjual, penulis mengambil satu sampel penjual karena sudah cukup mewakili ke empat informan tersebut. Kemudian dari pihak konsumen, penulis memilih satu dari tiga konsumen karena informasi yang disampaikan sudah cukup mewakili kedua konsumen lain. Wawancara dilakukan pada tanggal 31 Mei 2015 pukul 11.00 WIB.

Pada kesempatan kali ini juga penulis menanyakan seputar dua hal. yaitu tentang cara pemasaran dan jenis mobil apa yang sedang menjadi tren saat ini. Berikut ini adalah hasil wawancara penulis

a. Dari pihak Penjual
1. Ada berapa mobil yang anda jual di sini?
jawab: "Ada tiga mbak"

2. Mengapa anda menjual mobil anda? padahal masih terlihat mulus dan baru?
jawab: "Ya kalau mobil banyak dan gonta-ganti kan prestis mbak"

3. Baik. Jenis mobil apa yang sedang menjadi tren?
jawab: "Wah kalau itu tergantung kesukaan masing-masing orang mbak. Ada yang suka mobil sporty kayak Pajero. Tapi kalau menurut saya yang lagi ngetrean sekarang ya kayak mobil city car, contohnya ya etios valco, jazz, yaris, sirion, estilo, suzuki spalsh"

4. Bagaimana cara Anda memasarkan mobil Anda? Apa hanya lewat pameran ini saja?
jawab: "ya hanya masang mobil di sini saja mbak. Kalau yang di jual lewat online seperi OLX juga ada mbak"


b. Dari pihak konsumen
1. Jenis mobil apa yang anda cari?
jawab: "Yang gampang di bawa kekantor mbak. Ya kayak city car ini mbak"

2. Apakah Anda mau membeli mobil mengikuti tren sekarang ini?
jawab: "Ya kalau sementara ini enggak ikut tren dulu mbak. Yang penting murah dan irit bensin"

3. Apakah anda memiliki niat untuk membeli mobil secara online, seperti OLX?
jawab: "Wah saya malah belum tahu mbak. Mending cari mobil sambil cuci mata seperti ini saja mbak. Sekalian refreshing "

DAPAT DISIMPULKAN BAHWA................

Dari pihak penjual, dalam memasarkan mobil ternyata juga memberdayakan teknologi komunikasi seperti internet. Selain itu, jenis mobil yang menjadi tren saat ini adalah jenis mobil city car yang berciri khas berbentuk lebih kecil dari mini bus dan hanya tersedia 4 kursi.

Di lain pihak, para konsumen dalam memilih dan membeli mobil di sini cenderung tidak menggunakan fasilitas teknologi komunikasi seperti internet, mereka lebih memilih untuk melihat dan mencobanya langsung. Selain itu, jenis mobil yang saat ini menjadi pilihan konsumen tersebut adalah jenis mobil city car karena bentuknya yang jau lebih kecil daripada mini bus bagi mereka terkesan fleksibel untuk dibawa dalam aktivitas kerja mereka.

Penulis: Brendha Gebby P (131004986)

Riset Wawancara Di Pasar Klithikan


Pasar merupakan tempat di mana pembeli dan penjual saling berinteraksi, bernegosiasi mengenai apa yang di jual dan apa yang hendak dibeli demi mencapai kepentingan mereka masing-masing. Ada sebuah pasar yang cukup terkenal di kalangan masyarakat Yogyakarta yaitu Pasar Klithikan. Di sini, pasar Klithikan bukanlah pasar yang menyediakan barang dagangan yang berupa sayur dan buah (yang bisa dimakan), namun pasar tersebut menjual barang-barang sandang dan barang tersier lainnya.


APA YANG DIWAWANCARAI?
Wawancara penulis lakukan dengan kepada yakni penjual perhiasan yang sekarang ini sedang populer di masyarakat Indonesia, yaitu Batu Akik. Wawancara dilakukan pada tanggal 31 Mei 2015 pukul 13.30 WIB.

Pada kesempatan kali ini responden hanya menanyakan dua hal saja yaitu, tentang cara pemasaran dan jenis batu apa yang sedang menjadi "tren"

Berikut ini adalah beberapa pertanyaan yang di ajukan kepada informan. Nama informan tidak penulis sebutkan demi menjaga kerahasiaan dan menjaga nama akik informan.

1. Apakah anda menjual batu akik hanya di pasar ini saja?
jawab: "iya mba. Saya hanya jualan di sini."

2. Mengapa anda hanya memasarkan di pasar ini saja?
jawab: "ya karena kalau di jual online malah banyak yang ngga percaya, ntar dikira nipu. Agak ribet juga kalau sampe COD*. Udah mending jualan di sini aja. Yang dateng dan yang liat juga banyak, jadi mereka percaya gitu mbak."

*COD: Cash On Delivery

3. Batu akik yang sedang ngetren ini jenisnya apa saja?
jawab: "ohh kalau yang lagi ngetrean ini batu obsidian mbak, yang kayak kaca ini mbak. Apa lagi buat anak muda banyak yang suka batu obsidian ini mbak. Mungkin karena kinclong ya mbak. hehehe......"

4. Batu tersebut didatangkan dari mana?
jawab: "kalau batu obsidian ini didatangkan dari Cirebon mbak. Kalau Bacan ini dari daerah Maluku. Kalau yang solar ada yang dari Aceh dan ada yang dari maluku juga mbak"

DAPAT DI SUMPULKAN BAHWA..........
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan, penulis mendaptakna hasil bahwa cara penjualan batu akik tidak menggunakan media sosial online, hanya menggunakan tempat yang sudah disediakan oleh Pasar Klithikan. Kemudian mengenai tren batu mulia yang sedang digemari yaitu sebagian besar penjual menyatakan Batu Obsidian yang menjadi tren saat ini.

Penulis: Brendha Gebby P (131004986)

Minggu, 19 April 2015

Riset pasar mengenai Konsumsi Vitamin Harian sebagai Wujud Memodernisasikan Tubuh

A.    Pendahuluan


Dalam dunia yang kita sebut modern seperti saat ini begitu berlimpah pengusaha yang hidup dibidang medis dan memasarkan produknya sebagai jalan menuju kesehatan. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh Foucault bahwa tidak mengehrankan bahwa masyarakat kapitalis modern gencar mempromosikan tubuh yang sehat sebagai ciri kebudayaan sentral dan kuat (2009:181). Maka tidak mengherankan di setiap apotek di manapun tersedi berbagai jenis alat-alat kesehatan, secara spesifik seperti vitamin harian yang terbuat dari berbagai bahan, entah bahan itu kimia maupun herbal. Tidak peduli dari terbuat dari bahan apa vitamin tersebut, tetap saja membanjiri pasar di dunia kesehatan.
Berdasarkan sebagian pemaparan dari Michael Foucault inilah yang membuat peneliti tertarik untuk membuat riset survei yang merupakan respon dari pernyataan Foucault di atas. Tubuh dalam dunia modern menjadi sebuah pusat, sebuah obyek medikalisasi yaitu terdapat dominasi medisin dalam modernitas sebagai munculnya kekuasaan medis atau kekuasaan klinik (2009:176). Singkat kata, dalam dunia modern begitu besar peran dunia medis yang tidak hanya sebagai agen yang “dapat mengobati” masyarakat, tetapi sebagai agen kontrol pula agar masyarakat mau menikmati jasa maupun produk yang dihasilkan oleh agen ini. Begitu juga vitamin harian yang dicipatakan, diproduksi dengan berbagai macam fungsi, seperti peninggi badan, pelangsing, vitamin dari alfabet A,B,C,D,E, dan K, dan lain-lain.  

B.     Tujuan penelitian
Mengetahui persepsi masyakat mengenai adanya vitamin harian dalam dunia modern.

C.    Rumusan masalah
Bagaimana persepsi masyarakat dengan adanya vitamin harian dalam dunia modern?

D.    Tinjauan Pustaka

C.1. Medikalisasi kehidupan Modern
Menurut Foucault dan pengikutnya, kebijakan kekasaan dalam ranah medis dalam konteks modernitas juga dapat dilihat dalam medikalisasi kehidupan modern di mana-mana. Istilah ini merupakan rujukan pada cara di mana ciri dan fungsi universal keberadaan manusia disesuaikan dan dikendalikan oleh medis.

C.2. Tubuh sebagai pusat dalam modernitas
Gagasan medis mengenai memelihara kesehatan tubuh dan menghindari sakit dengan cara melakukan diet, berolahraga, menghindari kebiasaan buruk atau tidak sehat seperti merokok dan minum minuman keras muncul mengatur dan mendisiplinkan penduduk. Di dunia pra-modern, aturan-aturan agama berpusat pada roh yang menekankan pentingnya hidup baik, jujur dan bebas dari perbuatan dosa agar nanti mendapatkan kehidupan yang damai dan nyaman di akhirat. Hal yang sebaliknya terjadi pada jaman modern di mana aturan-aturan medis berpusat pada pentingnya “merawat” seseorang secara fisik agar memperoleh kehidupan yang layak di bumi secara maksimal. Maka menurut Foucault tida mengherankan masyarakat kapitalis modern begitu gencar dan antusias memperomosikan tubuh yang sehat sebagai ciri kebudayaan yang setral dan kuat.

E.     Metode Penelitian
Penulis memilih metode penelitian kuantitatif dengan cara survei ke lapangan. Survei dilakukan pada tanggal 18 April 2015 pukul 16.00 WIB hingga selesai. Lokasi survei dilaksanakan di wilayah Jalan Babarsari. Obyek penelitian merupakan pengunjung  dua apotek di Wilayah Jalan Babarsari. Jumlah populasi yang penulis kumpulkan terdapat 30 orang. Instrumen penelitian dengan kuesioner. Peneliti melakukan olah data menggunakan software SPSS.

F.     Variabel penelitian
Dari konsep medikalisasi. Medikalisasi secara singkat dapat diartikan sebagai cara di mana ciri dan fungsi atas keberadaan manusia disesuaikan dan dikendalikan oleh medis. Peneliti menurunkan konsep tersebut menjadi sebuah variabel yaitu tingkat peranan vitamin harian.

G.    Hasil penelitian
Keterangan gambar  1


Berdasarkan pertanyaan “Saya mengonsumsi vitamin harian karena anjuran dokter”,  responden paling banyak menjawab “Tidak Setuju” dibanding keempat jawaban lain, yaitu sebesar 33,33%

Keterangan gambar 2


Berdasarakn gambar diagram kedua mengenai pertanyaan “Saya mengonsumsi vitamin harian karena rekomendasi dari keluarga”, responden terbanyak menjawab “Tidak setuju” dibanding jawaban lain, yaitu sebesar 36,67%.
  
Keterangan gambar 3

Pada gambar diagram ketiga mengenai pertanyaan “Saya mengonsumsi vitamin harian untuk membuat pekerjaan lancar”, responden terbanyak menjawab “Setuju” yaitu sebesar 36,67% dibandingkan jawaban yang lain.

Keterangan gambar 4

Pada gambar diagram keempat memiliki pertanyaan “Saya mengonsumsi vitamin harian untuk membuat penampilan saya tetap ideal”. 60,00% responden menjawab “Setuju” dengan pertanyaan demikian.

Keterangan gambar 5

Gambar diagram kelima memiliki pertanyaan “Saya mengonsumsi vitamin harian agar terlihat seperti masyarakat modern”. Responden terbanyak menjawab “Tidak setuju” dibandingkan jawaban lain, yaitu sebesar 56,67%.

Keterangan gambar 6

Pada gambar diagram keenam yang memiliki pertanyaan “Saya mengonsumsi vitamin harian karena sudah menjadi gaya hidup saya” memiliki jawaban terbanyak yaitu “Tidak setuju” yang memiliki prosentase sebesar 43,33%

H.    Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengolahan data, peneliti mendapatkan hasil bahwa prosentase responden yang paling besar yaitu 60,00%  mengonsumsi vitamin harian untuk membuat penampilan tubuh tetap ideal. Hal ini sesuai dengan apa yang dipaparkan oleh Foucault bahwa dalam modernitas, aturan-aturan medis berpusat pada “kini”dan “di sini”, yang menekankan pentingnya “merawat ” seseorang secara fisik agar memperoleh keuntungan taua manfaat maksimum dari kehidupan di muka bumi.

Namun hal ini tidak berarti bahwa responden ingin terlihat modern dengan mengonsumsi vitamin harian. Hal ini terbukti dengan hasil pengolahan data pada pertanyaan “Saya mengonsumsi vitamin harian agar terlihat seperti masyarakat modern”. Jawaban “Tidak setuju” memperoleh perosentase sebesar 56,67%, jauh lebih besar prosentasenya dibandingkan pertanyaan yang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Jones, Pip. (2009). Pengantar Teori-Teori Sosial: Dari Teori Fungsionalisme hingga Post-Modernisme. (Achmad F. Saifuddin, Trans). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia 

oleh: Brendha Gebby P (131004986)

Selasa, 07 April 2015

Riset Pasar Mengenai Costumer Experience terhadap Produk Kosmetik

Pendahuluan:
Penulis pada kesempatan kali ini mencoba melakukan sebuah wawancara mendalam mengenai pengalaman konsumen terhadap suatu produk. Dasar berpikir penulis terambil dari Customer Experience.  Thompson & Kolsky (dalam Suwono, 2011) mendefinisikan customer experience sebagai akumulasi dari semua kejadian yang disadari oleh pelanggan. Sementara ada beberapa tahapan
Berdasarkan konsep tersebut, penulis ingin mengetahui sejauh apa Customer Experience dapat memengaruhi konsumen dalam membeli sebuah produk. Metode yang dilakukan penulis yaitu dengan wawancara mendalam atau in-depth interview.

Teori penunjang:
Customer Experience
Watkins (2007) mendefinisikan customer experience sebagai penjelmaan sebuah brand yang mana melingkupi semua interaksi antara organisasi dengan pelanggan.
Brooks (dalam Suwono, 2011) menjelaskan tentang lima langkah yang harus dilakukan perusahaan dalam membangun experience pelanggannya, yaitu; (1) mengetahui keinginan pelanggan, (2) proses dan sistem yang baik sehingga mampu memenuhi semua ekspektasi pelanggan, (3) buatlah pelanggan senang dan menikmati proses bertransaksi, (4) buat pelanggan merasa “Wow”, kemudian yang terakhir, (5) buat pelanggan berhasil dengan adanya transaksi tersebut.

Experiental Marketing
Schmitt ( dalam Rini, 2009:15 )
menyatakan bahwa esensi dari konsep experiential marketing adalah pemasaran dan manajemen yang didorong oleh pengalaman.  Schmitt (1999) memberikan suatu framework alternatif yang terdiri dari dua elemen, yaitu Strategic expereince modules (SEMs), yang terdiri dari beberapa tipe experience dan Experience producers (ExPros), yaitu agen – agen yang dapat menghantarkan experience ini. Strategic experience modules terdiri dari lima tipe, yaitu sense, feel, think, act, dan relate.

Metode:
Penelitian dilakukan dengan teknik wawancara mendalam. Bentuk data yang hendak di dapatkan yaitu data primer atau data yang langsung bersumber dari informan.
Variabel:
Variabel yang dipilih oleh penulis mengacu pada Strategic experience modules yang terdiri dari lima tipe, yaitu sense, feel, think, act, dan relate.

Sense
Sense adalah aspek- aspek yang berwujud dan dapat dirasakan dari suatu produk yang dapat ditangkap oleh kelima indera manusia,meliputi pandangan,suara,bau, rasa, dan sentuhan.

Feel
Perasaan berhubungan dengan perasaan yang paling dalam dan emosi pelanggan. Iklan yang bersifat
feel good biasanya digunakan untuk membuat hubungan dengan pelanggan, menghubungkan pengalaman emosional mereka dengan produk atau jasa, dan menantang pelanggan untuk bereaksi
terhadap pesan.

Think
Menurut Schmitt cara yang baik untuk membuat think campaign berhasil adalah
1.      menciptakan sebuah kejutan yang dihadirkan baik dalam bentuk visual, verbal ataupun konseptual
2.      berusaha untuk memikat pelanggan dan
3.      memberikan sedikit provokasi.

Act
Tindakan yang berhubungan dengan keseluruhan individu (pikiran dan tubuh) untuk
meningkatkan hidup dan gaya hidupnya. Pesan-pesan yang memotivasi, menginspirasi dan bersifat spontan dapat menyebabkan pelanggan untuk berbuat hal-hal dengan cara yang berbeda, mencoba dengan cara yang baru merubah hidup mereka lebih baik.

Relate

Relate menghubungkan pelanggan secara individu dengan masyarakat, atau budaya. Relate
menjadi daya tarik keinginan yang paling dalam bagi pelanggan untuk pembentukan self-improvement, status socio-economic, dan image. Relate campaign menunjukkan sekelompok orang yang merupakan target pelanggan dimana seorang pelanggan dapat berinteraksi, berhubungan, dan berbagi kesenangan yang sama.

Hasil wawancara:

Berikut ini adalah contoh bentuk wawancara yang saya lakukan pada tanggal 5 April 2015 pukul 19.21 mengenai pengalaman konsumen pada suatu produk. Nama informan tidak penulis sebutkan dan merek produk  penulis sensor untuk menjaga privasi pihak tersebut.

Informan adalah seorang wanita berusia dua puluh satu tahun dan jenis produk yang paling lama ia gunakan yaitu jenis  kosmetik. Informan menggunakan kosmetik tersebut kurang lebih akhir tahun 2012 lalu. Produk kosmetik tersebut merupakan jenis produk yang Ia gunakan paling lama dibandingkan jenis-jenis produk lain.

Informan menggunakan kosmetik tersebut bermula dari temannya yang bagi dia memiliki wajah bersih dan dan cerah. Sedangkan menurut informan, ia emiliki jenis kulit yang sensitif, seperti berminyak, banyak jerawat, komedo, dan kusam. Kemudian informan menayakan kekapada temannya menggunakan merek apakah ia. Teman informan menggunakan merek N***G***N. Informan merasa tertarik dengan hasil yang sudah di lihatnya melalui temannya. Mula-mula untuk membeli produk tersebut, pembeli harus mendaftar terselbih dahulu untuk mengumpulkan data pengguna N***G***N dan agar mudah dokter pihak N***G***N mengontrol tiap pengguna N***G***N. Penggunaan kosmetik ini pun tidak instan, namun berurutan. Jika kulit yang semula berjerawat ingin menjadi lebih cerah tidak bisa langsung diberikan kosmetik untuk mencerahkan, namun diberi dahulu kosmetik untuk membersihkan jerawat, selang beberapa bulan baru diberikan kosmetik khusus pencerah. Hal ini berkaitan dengan act karena ada pesan-pesan yang secara tidak kasat mata memoivasi informan untuk mengenali lebih jauh dan membeli produk tersebut.

Pikiran saat pertama kali melihat produk tersebut yaitu mengenai kandungan bahan kimia berbahaya di dalamnya, apakah ada kandungan merkuri di dalamnya? Karena sebelumnya informan  pernah menggunakan produk pemutih bermerek (nama merek disensor ) K***Y. Semula Ia menggunakan produk tersebut karena melihat saudarinya berwajah cerah karena ia menggunakan produk tersebut. Informan pun mencobanya dan hal ini didukung dengan harga yang bagi informan sangat terjangkau, yaitu tiga ribu rupiah. Baginya Hasil memang didapatkan sangat cepat, namun saat terkena sinar matahari, kulit wajah menjadi merah. Infroman sebelumnya pernah bekerja menjadi analis kimia. Rasa penasaran muncul mengapa reaksi pada kulit begitu cepat, kemudian informan mencoba menganalisisnya. Ternyata kandunga merkuri dalam produk bermerek K***Y memiliki kandungan merkuri sebesar 10.000 (sepuluh ribu) ppm. Padahal tidak pernah ada anjuran kosmetik menggunakan senyawa merkuri walaupun dalam takaran paling kecil sekalipun. 

Perasaan informan yang pertama kali muncul saat melihat produk ini yaitu mengenai kemasan produk. Kemasan dari luar terlihat memiliki isi yang yang banyak, ternyata tidak demikian. Isi kemasan tersebut ternyata jauh lebih sedikit dari yang dibayangkan sebelumnya. Hal ini berkaitan dengan sense, karena menyangkut aspek panca indera infroman. 

Walaupun terlihat sedikit, hal yang membuat infroman tetap yakin untuk membeli produk N***G***N yaitu hasil yang tidak instan, penjelasan dari brosur N***G***N bahwa produk N***G***N terdiri dari bahan alami, pelayanan yang baik dan ada dokter spesialis yang mempu menangani masalah kulit wajah informan. Jauh dari ekspektasi informan ternyata N***G***N juga memberikan undian yang dilakukan setiap enam bulan sekali. Hal ini berkaitan dengan act pula karena ada pesan pesan yang disampaikan pada informan melalui media kawan atau pun brosur yang memengaruhi informan untuk membeli produk kosmetik tersebut


Faktor luar yang membuat informan membeli dan tetap menggunakan produk N***G***N yaitu hasil yang didapatkan oleh teman informan yang juga menggunakan produk ini. Ia juga meyakini ilmu dan kecantikan merupakan investasi berharga di masa depan. Ilmu dapat terus digunakan dalam hidup dan tidak akan pernah habis. Kecantikan atau berpenmpilan menarik baginya memiliki nilai lebih jika melakoni dunia pekerjaan. Hal ini berkaitan dengan relate, di mana ada faktor sosial yang memengaruhi infroman untuk membeli dan menggunakan produk kosmetik tersebut.

referensi: 
lib.ui.ac.id%2Ffile%3Ffile%3Ddigital%2F20280787-T21736-Customer%2520exferience.pdf&ei=o90jVfWuCMOfugTZ_4FY&usg=AFQjCNE9tnvEgXWL-aTjRH-xvXqxtn_HcA&sig2=zvvq5LJAJJlj-cBmePFc9Q&bvm=bv.89947451,d.c2E. 

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21120/1/jmb-jan2009-2%20%282%29.pdf

Brendha Gebby P (131004986)

Selasa, 24 Maret 2015



Riset Pasar mengenai Peran Institusi Sosial dalam Menonton Sebuah Film


1.   Introduksi
Film merupakan ladang bisnis yang cukup menjanjikan sejak permulaan pembuatannya hingga sekarang. Film merupakan bentuk media audio visual, berbentuk gambar hidup yang memilki nilai seni yang populer karena fungsinya untuk menghibur bahkan untuk berbisnis. Menurut Cangara, pengertian sempit dari film adalah penyajian gambar lewat layar lebar (1998: 138). Film dalam proses perkembanganannya menjadi salah satu bagian dari kehidupan sosial yang tentu saja memiliki dampak bagi para penontonnya. Karena memiliki dampak secara sosial, penulis ingin mangetahui dari faktor sosial apakah yang mempengaruhi penonton menyaksikan film yang mereka sukai. Penulis mencoba menghubungkannya dengan konsep-konsep dari Institusi sosial. Menurut Sunarto, macam-macam institusi sosial antara lain institusi keluarga, institusi pendidikan, institusi agama, institusi ekonomi, dan institusi politik (2004: 61). 

2.      Rumusan masalah
Institusi apakah yang lebih mempengaruhi penonton film?

3.      Metode Penelitian
Penulis memilih metode penelitian kuantitatif dengan cara survei ke lapangan. Survei dilakukan pada tanggal 23 Maret 2015 pukul 13.00 hingga selesai. Lokasi survei dilaksanakan di wilayah Jalan Babarsari. Obyek penelitian merupakan masyarakat sekitar Babarsari.  Jumlah populasi yang penulis kumpulkan terdapat 45 orang. Instrumen penelitian dengan kuesioner.

4.      Hasil penelitian
Keterangan Tabel 1:

Pertanyan nomor satu mengenai “Saya menonton film tersebut karena ajakan dari keluarga saya” mewakili dari institusi keluarga. Jumlah responden yang menjawab setuju berjumlah tujuh responden, yang menjawab tidak berpendapat berjumlah enam responden, dan yang menjawab tidak setuju berjumlah tiga puluh dua responden.

Keterangan Tabel 2:

Berikut ini adalah keterangan mengenai jumlah responden yang menjawab pertanyaan “Saya menonton film tersebut karena mendidik” dan pertanyaan tersebut mewakili institusi pendidikan. Jumlah responden yang menjawab setuju berjumlah dua puluh tiga responden, yang menjawab tidak berpendapat berjumlah tiga belas responden, dan yang menjawab tidak setuju berjumlah sembilan orang.

Keterangan Tabel 3:

Berikut ini  adalah keterangan mengenai jumlah responden yang menjawab pertanyaan “Saya menonton film tersebut karena sesuai dengan ajaran agama yang saya anut” mewakili institusi agama. Jumlah responden yang menjawab setuju berjumlah delapan responden, yang menjawab tidak berpendapat berjumlah sembilan belas responden, dan yang menjawab tidak setuju berjumlah delapan belas responden.

Keterangan Tabel 4:

Berikut ini adalah keterangan jumlah responden menurut pertanyaan “Saya menonton film tersebut karena memberi saya inspirasi dan keuntungan untuk berbisnis” yang mewakili institusi ekonomi. Jumlah responden yang memilih jawaban setuju berjumlah delapan belas responden, yang menjawab tidak berpendapat berjumlah dua belas responden, dan yang menjawab tidak setuju berjumlah lima belas responden. 

Keterangan Tabel 5:

Berikut ini adalah keterangan jumlah responden menurut pertanyaan “Saya menonton film tersebut karena menginspirasi saya untuk menjadi seorang pemimpin”. Jumlah responden yang memilih jawaban setuju berjumlah dua puluh dua responden, yang memilih jawaban tidah berpendapat berjumlah lima belas responden, dan yang memilih jawaban tidak setuju berjumlah delapan responden.

5.      Kesimpulan
Berdasarkan keseluruhan data yang penulis dapatkan, pertanyaan yang lebih banyak memilih setuju yaitu pertanyaan “Saya menonton film tersebut karena mendidik” yang mewakili istitusi pendidikan. Dapat dipersempit pula bahwa institusi pendidikan yang lebih banyak berperan atau mempengaruhi penonton untuk menyaksikan film. Film dapat menjadi bagian dari institusi pendidikan karena ada didikan yang secara langsung mauapun tidak langsung diajarkan. Jenis institusi pendidikan menurut Sunarto (2004: 66) terdiri dari pendidikan formal, informal, dan non-formal. Pendidikan formal memiliki contoh seperti pendidikan dari jenjang prasekolah hingga pendidikan tinggi, seperti sekolah hingga perguruan tinggi. Jenis kedua yaitu informal yang memiliki contoh keluarga atau media massa. Pendidikan non-formal memiliki contoh yaitu kursus. 
6.      Daftar Pustaka
Singarimbun, Masri., Effendi, Sofian. Metode Penelitian Survei. Jakarta: LP3ES.
Sunarto, Kamanto. 2004. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
http://thesis.umy.ac.id/datapublik/t15140.pdf, diakses pada tanggal 24 Maret 2015.

Oleh: Brendha Gebby P (131004986)